Tulisan 2019 - 2025Artikel
Membincang Risalah Nur; “Ihya” Dunia Modern
SEMA-FDI
28 November 2014
10 menit| 0 views
![]() |
| Anggota Majelis Penasehat Besar SEMA-FDI Kairo Mahkamah Mahdi, MA. |
Mungkin kita bisa membincang Risalah Nur, masterpiece Badiuzzaman Said Nursi (1877-1960 M), pembaru Islam dari Turki, dengan wacana pembaruan (tajdid), seperti halnya bisa dimulai dengan wacana dan pendekatan lainnya.
Mengapa tajdid? Tajdid merupakan konsep kenabian yang ditegaskan oleh Rasulullah SAW. Sabda Beliau: “Sungguh Allah mengutus untuk ummat ini di setiap penghujung abad mujaddid (orang atau kelompok) yang memperbarui agamanya. (HR. Abu Daud, dengan jalur riwayat sahih).
Dalam konteks ini, Risalah Nur menjelaskan bahwa ada tiga garapan tajdid sekaligus merupakan fase untuk menggelindingkan sebuah proyek tajdid. Pertama: pembaruan hakekat keimanan, Kedua: pembaruan kehidupan sosial (penguatan identitas Islam), Ketiga: pembaruan bidang politik dan penerapan syariah. (Malahiq, Risalah Nur, hlmn. 196).
Menurut Badiuzzaman, pembaruan dalam menjaga hakekat keimanan merupakan hal terpenting diantara tiga hal tersebut. Sementara dua agenda tajdid lainnya menduduki prioritas kedua dan ketiga. Namun demikian, menurutnya, opini publik lebih tertarik dengan aspek sospol, karena pandangan publik dan mereka yang terobsesi dengan kehidupan dunia mengarah pada kehidupan sosial politik yang dianggapnya lebih penting dan memiliki garapan yang lebih luas serta memiliki daya tarik karena terkait soal kekuasaan.
Ketiga agenda tajdid dalam pandangan Said Nursi mustahil diemban oleh sebuah figur atau kelompok di zaman ini, kecuali dalam sosok “Al Mahdi” yang akan datang di akhir zaman seperti dalam nubuwat Nabi.
Jika mencermati nubuwat kenabian tentang akan runtuhnya tradisi keislaman dan merebaknya ateisme dalam bentuk yang tidak pernah disaksikan sebelumnya serta disimbolkan dalam hadits Nabi dengan munculnya Dajjal dan Sufyani (Dajjal umat Islam), terlihat relevansi apa yang ditegaskan oleh Risalah Nur.
Beratnya pergumulan antara iman dan kekufuran serta sulitnya kondisi akhir zaman digambarkan oleh sejumlah hadits Nabi, a.l:
بادروا بالأعمال فتنا كقطع الليل المظلم يصبح الرجل مؤمنا ويمسي كافرا أو يمسي مؤمنا ويصبح كافرا يبيع دينه بعرض من الدنيا
Artinya: (Rasulullah bersabda), “Bersegeralah kalian mengerjakan amal-amal shalih sebelum terjadi fitnah (bencana) yang menyerupai kepingan-kepingan malam yang gelap gulita, yaitu seseorang diwaktu pagi beriman tapi pada waktu sore ia telah kafir, atau pada waktu sore ia beriman dan pada pagi harinya ia telah kafir, ia rela menjual agamanya dengan secuil keuntungan dunia.” (HR. Muslim)
ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعْ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ
Artinya: (Rasulullah bersabda): Berpesanlah untuk kebaikan dan cegahlah kemungkaran, hingga apabila engkau telah melihat kedekut yang diikuti, hawa nafsu yang dituruti, dunia yang dinomorsatukan, dan orang merasa takjub dengan pendapatnya maka hendaklah kamu menjaga diri dan jangan mencampuri urusan orang awam (publik). Di saat itu, kalian akan menghadapi hari-hari dimana saat itu kesabaran serasa memegang bara api, (pahala) mereka yang beramal (memegang sunna Nabi) sama dengan (pahala) 50 orang yang beramal seperti amalan kalian. (HR. Ibnu Majah dan Tirmizi).
Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah menggambarkan terjadinya pergeseran nilai dan norma keagamaan, ketika kebejatan dipoles dan berganti nama menjadi kebebasan.
Rasulullah berdialog dengan sahabatnya:
كيف بكم إذا لم تأمروا بالمعروف ولم تنهوا عن المنكر؟ قالوا: أو كائن ذلك يا رسول الله؟ فقال عليه الصلاة والسلام: وأشد منه سيكون. قالوا: وما أشد منه؟ قال: كيف بكم غذا أصبح المعروف منكرا والمنكر معروفا.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya mengusik keingintahuan para sahaba?tnya: Kira-kira apa yang akan terjadi jika kalian tidak mengemban amar makruf nahy munkar? Para sahabat bertanya: apa kondisi seperti itu bisa terjadi wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: Bahkan yang lebih parah lagi akan terjadi. Para sahabat bertanya? Apa yang lebih parah dari kondisi tersebut? Rasulullah menjawab: Kira-kira apa yang akan terjadi jika kebajikan diputarbalikkan dan dianggap sebagai keburukan, dan keburukan dianggap sebagai kebajikan.
Ketika Turki memasuki era republik yang menyaksikan derasnya gelombang ateisme dan sikap anti agama, Badiuzzaman Said Nursi yang dikenal sebagai sosok politisi yang disegani dan berpengaruh meninggalkan dunia politik. “Gelanggang perjuangan telah berubah”, demikian katanya. Konflik dan pergumulan antara keimanan dan kekufuran telah sampai pada perebutan benteng terakhir. Dalam konteks Turki dimana Said Nursi bergelut, pergumulan dua kekuatan Islam vis a vis ateisme sangat alot, ketika pemerintah Turki saat itu mengambil kebijakan untuk mengimpor dan mencangkok peradaban “Barat” dalam masyarakat Turki.
Meskipun saat ini dalam praktiknya tidak seseram eksperimen Kemalisme di Turki, namun tidak dipungkiri, kondisi dunia Islam tidak kurang seramnya. Kekuatan kesesatan benar-benar telah menggurita dalam dunia kita, disadari atau tidak. Dengan teknologi media komunikasi dan informasi, penyebaran ide yang secara diametral bertolakbelakang dengan Islam mengikis identitas keislaman insan muslim di era modern ini secara sistemik dalam bentuk yang begitu hebatnya dan didukung oleh kekuatan global, membuat kita harus melirik eksperimen Said Nursi yang dianggap sebagai aktor intelektual bangkitnya masyarakat Turki akhir-akhir ini.
Banyak sisi dalam kehidupan Said Nursi dan karyanya Risalah Nur. Tulisan ini seperti dipaparkan di awal kertas ini berambisi untuk memperkenalkan eksperimen dan pendekatan Nursi dalam pembaruan hakikat keimanan yang setiap waktu terancam dibajak oleh berbagai arus di dunia modern ini.
Risalah Nur pada dasarnya adalah sebuah interpretasi terhadap Al Quran yang menurutnya mempunyai empat tujuan universal, yaitu: untuk memberikan argumentasi terhadap ketauhidan, kenabian, kebangkitan dan menjelaskan tentang peradaban. Oleh karena itu, keempat tema ini mengambil porsi yang sangat besar dalam Risalah. Dalam ulasannya, upaya membendung dan mengatasi ateisme berikut berbagai bentuk perpanjangannya yang menjadi virus mematikan di zaman ini, membutuhkan “Ihya Ulumuddin” baru. Jika Imam Al Gazali (1058-1111 M) yang mendedikasikan karyanya “Ihya” untuk memerangi ateisme a la gerakan Syiah Batiniyyah, dunia modern membutuhkan “Ihya” yang telah terbarui dan relevan dengan PR-nya saat ini.
Risalah Nur misalnya mengulas rinci wacana manifestasi Asmaul Husna (nama-nama Allah yang mulia) sebagai media untuk mengenal sekaligus memberi argumentasi terhadap eksistensi dan ketauhidan Sang Pencipta seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Risalah Nur mengajak kita untuk bertafakkur, memahami dan menghayati manifestasi asmaul husna yang menutupi setiap titik alam semesta ini. Semua ciptaan Allah mulai dari makhluk/benda mikroskopik hingga teleskopik dalam berbagai dimensinya merupakan tanda kebesaran dan manifestasi asma dan sifat Allah. Setiap makhluk membawa di atas punggungnya stempel dan merek yang mustahil ditiru "created by Almighty Allah".
Dalam Risalah Nur misalnya, dijelaskan bahwa jagat raya ini merupakan sebuah buku raksasa (gigantic book) yang merupakan kumpulan buku yang tak terhitung jumlahnya. Ia tersusun dari ribuan lembaran, milyaran kata dan trilyunan huruf bahkan tidak terhitung jumlahnya. Setiap lembaran, kata dan hurufnya mengandung buku-buku yang tidak terhitung. Jika kita mengalihkan pandangan ke salah satu titik di jagat raya ini dan memilih buku galaksi bimasakti untuk dikaji, akan terlihat buku besar yang pada hakikatnya mengandung ribuan buku a.l. planet, benda langit termasuk bumi. Jika kita menarik bumi untuk disorot, tampak bumi dengan berbagai makhluk: binatang, tumbuhan dan manusia yang mendiaminya merupakan kumpulan buku-buku besar yang membutuhkan ribuan lembar untuk menulisnya. Kalau ingin membuka lembaran buku tentang manusia, kita harus membuka bergudang-gudang buku. Bahkan bisa dikatakan bahwa kitab manusia mengandung kitab-kitab yang sangat banyak seakan tak terhitung jumlahnya. Jika ingin membuka salah satunya a.l. kitab jantung, ia juga pada gilirannya tersusun dari buku-buku yang sangat banyak. Ketika mengambil buku tentang darah yang mengkaji salah satu kata yang terkait dengan jantung, ia tampak sebagai buku yang berdiri sendiri. Bahkan jika ketika mengamati kitab pembuluh darah diantara buku-buku yang terkandung dalam buku ttg darah, ia dapat menjadi objek kajian untuk meraih gelar guru besar.
Firman Allah SWT:
قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَاداً لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَداً
“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhanku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (QS. Al-Kahfi: 109).
Jadi, alam semesta merupakan kosa kata yang mengekpresikan sifat-sifat qudrah, ilmu, hikmah dan berbagai sifat dan asma Allah yang jika seandainya ingin ditulis dengan tinta samudera, niscaya samudera akan habis sebelum mampu menuliskan semua kata, kalimat, buku asma dan sifat-Nya, bahkan meskipun tujuh samudera menjadi tintanya.
Kesadaran terhadap fakta sistemik alam ini mengantar pada kesadaran terhadap keterbatasan dan kelemahan kita sebagai manusia. Tidak seorang pun diantara kita yang sanggup memenuhi semua kebutuhannya setiap detiknya. Manusia tidak sanggup menciptakan oksigen yang menjadi prasyarat kelangsungan hidupnya. Allah memberinya secara cuma-cuma tanpa bayaran. Dalam menjaga kelangsungan hidupnya, manusia harus mengambil asupan yang memadai. Namun dalam total proses mengambil asupan gizi tersebut, porsi yang masuk dalam kategori usaha manusia hanya mencapai 1%, yaitu ketika memasukkan makanan ke dalam mulut. Sisa dari proses tersebut diatur dan diurus oleh Yang Maha Kuasa. Tidak mungkin tadbir tersebut dikembalikan pada gizi atau sel-sel darah yang memasok nutrisi ke seluruh bagian tubuh yang membutuhkan. Kalau semua proses kerja organ tubuh dan sistem-sistemnya dikembalikan pada manusia, ia akan mati hanya dalam sesaat.
Intinya, kolaborasi antara kesadaran terhadap fakta dunia, kelemahan, keterbatasan dan kebutuhan yang menjadi karakter dan esensi kehidupan kita, akan mengantar kita pada makrifat yang mengarah pada ihsan, seperti dalam sabda Rasulullah, “Sembahlah Allah seakan engkau melihat-Nya atau jika engkau tidak menyaksikan-Nya, camkan bahwa Ia melihatmu. Keyakinan yang didasari terhadap penyaksian terhadap tadbir dan kepengaturan Allah terhadap dunia kita seperti inilah yang mampu melawan dan mengatasi serbuan ateisme yang telah mengepung kita dari segala penjuru.
Syeikh Ali Gomaa menyimpulkan upaya pembaruan Said Nursi dengan Risalah Nur-nya, “Kejernihan Dakwah Said Nursi diproyeksikan untuk mengembalikan kita kepada Ihsan. Islam telah goyah, Iman telah retak, dan kembali kepada keduanya (Iman dan Islam) hanya dengan Ihsan”.
Begitu hebatnya sepak terjang Badiuzzaman dalam mengatasi serangan ateisme filsafat materialisme, Muhsin Abdul Hamid, pemikir Islam asal Irak menyebutnya Hujjatul Islam, gelar yang diberikan kepada Abu Hamid Al Gazali.
Written by : Mahkamah Mahdi, MA. (Mahasiswa PhD Fakultas Dirasah Islamiyah wa al-Arabiyah Banin Universitas al-Azhar Kairo, Kosenterasi di bidang Ushul Fiqh, sekaligus Anggota Majelis Penasehat Besar SEMA-FDI Kairo Mahkamah Mahdi, MA.).



