Senat ST Kembali Digelar, Kali Ini Bertempat Di Mabna Kuliah

Senat ST Kembali Digelar, Kali Ini Bertempat Di Mabna Kuliah

SEMA-FDI
11 Maret 2015
4 menit 0 views
Universitas Al-Azhar, Fakultas Dirasah Islamiyah Wa Al-'Arabiya Putra (diakui dan terakreditasi), Kairo. 

semafdicairo.org, Kairo — Senat mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah kembali menggelar acara Senat Sit Together pada Selasa pagi (10/3), kali ini acara bertempat di Mabna Kuliah Dirasat, Hay Sadis.

Adapun tema yang diusung kali ini adalah “Mengenal lebih dekat sosok Taha Hussein”, salah satu tokoh akademisi dan sastrawan Mesir yang banyak berpengaruh di bidang pendidikan pada abad 20. Selain bertujuan menambah wawasan dan pengetahuan, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai ajang silaturahim antar mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah.

Diskusi ini sendiri dipimpin langsung oleh Thoriq Aziz, Ketua DPH SEMA-FDI Tahun Akademik 2014/2015. Ia menggantikan Arif Al-Anang yang berhalangan hadir, di mana semula dijadwalkan Ariflah yang bertindak sebagai pembicara kunci.

Sebelum membahas permasalahan sisi kontroversial Taha Husein, terlebih dulu Thoriq memperkenalkan secara ringkas riwayat sang sastrawan kepada peserta diskusi yang hadir. Bernama lengkap Taha Hussein Ali Salamah, dilahirkan di provinsi Al-Minya, Mesir, pada 15 November 1889. Taha muda sempat menimba ilmu kegamaan di Universitas Al-Azhar As-Syarif sebelum akhirnya ia banting setir mendalami literatur Arab di Universitas Cairo, kemudian melanjutkan pendidikannya ke Eropa. Di sinilah pemikiran Taha Husein banyak terpengaruh, sehingga menjadikannya seorang radikal terhadap kesusastraan Arab. Sekembalinya dari Eropa, ia mulai aktif menulis buku dan mengajar di beberapa Universitas di Mesir, hingga akhirnya Taha Husein diangkat menjadi Menteri Pendidikan yang banyak membawa perubahan pada wajah pendidikan Mesir. Ia pun dijuluki bapak sastra arab pada saat itu.

Setelah mengenalkan sosok Taha Hussein, Thoriq Aziz mengajak para peserta agar terlibat aktif dalam diskusi, masalah pertama yang diangkat adalah bukunya yang dianggap tidak sesuai dengan kondisi keislaman di Mesir. Bahkan cenderung menyimpang dengan tidak mengakui beberapa asas dasar agama Islam, seperti tertulis dalam kitabnya Fi Syi’ril Jahili. Taha meragukan kerasulan dan kenabian Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, ia beranggapan tidak ada bukti otentik tentang hal tersebut. Tak heran jika banyak ulama menganggapnya menyimpang karena telah bertentangan dengan kredo umat islam.

Tidak sedikit juga para cendikiawan Mesir yang menulis buku secara jelas ditunjukan untuk menyangkal atas apa yang ia tulis dalam bukunya. Hingga akhirnya ia harus merevisi dan  mencoret beberapa bab dalam bukunya tersebut. Tak hanya berbicara mengenai Taha Hussein, diskusi juga sedikit melebar dengan membahas tentang permasalahan-permasalahan yang terjadi di sekitar tokoh akademisi dan agamawan dewasa kini.

Meski hanya berlangsung satu jam, diskusi kali ini cukup menarik karena mampu mendorong para peserta membuka pikiran dan menyikapi masalah secara seimbang. Sebelum diakhiri, Thoriq selaku Ketua Senat sekaligus  pembicara kunci mengantikan Arif al-Anang, mengagendakan kegiatan observasi ilmiah dengan mengunjungi museum Taha Husein agar bisa mengenal tokoh ini lebih objektif. Selain itu, ia juga merencanakan kunjungan bersama ke salah satu perpustakaan besar milik Al-Azhar di kawasan 7th District, Nasr City, Kairo, pada pertengahan bulan ini.


Reported by : Amirudin Ishaq Zainal Anshory (SEMA-FDI reporter).

Komentar (0)

Tertarik untuk ikut berdiskusi?

Masuk ke Akun

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait

Lihat Kategori
المزج المعرفي بين المعتزلة والأشعرية على البنية العقدية المتحدة: قراءة في الفكر الكلامي عند محمد عبده
ArtikelTulisan 2019 - 2025
19 Mar 2025
14 menit baca

المزج المعرفي بين المعتزلة والأشعرية على البنية العقدية المتحدة: قراءة في الفكر الكلامي عند محمد عبده

قام محمد عبده بمشروع تكوين الفكر الكلامي المستجد عنده. فمزج عبده بين الفكر الاعتزالي والفكر الأشعري على بنية الفلسفة الكلامية المتحدة. فبدأ عبده مشرو...